Tugas Aksi Nyata Modul 1.4 _Forum berbagi aksi nyata

 

PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 

Tugas Aksi Nyata - Forum Berbagi Aksi Nyata Modul 1.4.a.9.1.

Oleh :Tajuddin_SMK Negeri 5 Majene

 

A.      LATAR BELAKANG

Kegiatan ini berawal dari adanya kesadaran akan pentingnya menciptakan sekolah nyaman dan aman bagi murid. Dengan budaya positif akan terwujud pembelajaran yang berpihak pada murid siswa akan belajar dengan nyaman dan tenang di sekolah. Untuk mendukung terwujudnya budaya positif maka dibutuhkan pembentukan keyakinan kelas dan penerapan segitiga restitusi. Pemahaman guru tentang budaya positif di SMK Negeri 5 Majene  belum memahami sepenuhnya atau baru sebagian untuk itu diperlukan desiminasi tentang budaya positif bagi semua pihak yang ada di sekolah.

Setelah memahami bahwa sebagai pendidik, seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur. Anda akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa.

Dari uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian,  karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.

Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif dimana semua stakeholder saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta pembiasaan yang baik (positif), dari pembiasaan yang  baik tersebut  akan tumbuh menjadi karakter yang baik bagi warga sekolah, dan pada akhirnya karakter dari pembiasaan yang baik (positif) akan membentuk sebuah budaya positif.

Cobalah amati lingkungan sekolah Anda sendiri saat ini, bagaimana suasananya? Bagaimana murid-murid saling berinteraksi, bagaimana guru saling bertegur sapa, bagaimana guru menyapa murid, bagaimana guru menyelesaikan suatu permasalahan atau konflik antar murid? Suasana atau  budaya yang  berkembang  di sekolah anda saat ini, secara tidak langsung menjadi cermin dari tujuan mulia atau nilai-nilai yang sekolah atau institusi anda anut dan yakini selama ini. Untuk itulah menciptakan lingkungan positif agar terbentuk suatu budaya positif adalah suatu proses perjalanan pendidikan yang harus kita jalani,  karena  ini  merupakan  tanggung  jawab  kita  sebagai  seorang  pendidik,  sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Suatu  lingkungan  yang  nyaman  dan  aman  akan  memberikan  murid  kesempatan  dan kebebasan untuk berproses, belajar, sehingga mampu menerima dan  menyerap  suatu  pembelajaran. Perlu  diingat,  selama seseorang merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Salah satu tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah menghilangkan atau ‘mencabut’ gangguan- gangguan yang menghalangi proses pengembangan potensi murid. Keyakinan kelas atau sekolah  merupakan  nilai-nilai kebajikan  universal yang berkembang tanpa membedakan suku, agama, ras, negara dan sebagainya. Melalui keyakinan kelas ini diharapkan murid dapat memiliki motivasi internal dalam berperilaku baik. Murid tetap melakukan perilaku baik bukan karena hukuman atau penghargaan, namun karena ingin menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan menjunjung nilai-nilai yang mereka  yakini. Berdasarkan Standar Pendidikan adalah agar terbentuk murid bertanggung jawab, dan maka setiap warga sekolah menghayati, dan menerapkan nilai dapat menerapkan tujuan mulia berjiwa kepemimpinan sehingga terwujud suatu budaya pengelolaan yang telah ditetapkan. Berdasarkan uraian di atas keyakinan kelas untuk mewujudkan visi sekolah dengan warga sekolah.

B.      TUJUAN

1.       Memberikan sosialisasi kepada warga sekolah terkait budaya positif dan penerapannya di lingkungan sekolah

2.       Menumbuhkan budaya positif dengan kesepakatan kelas dan penerapan segitiga restitusi.

3.       Menumbuhkan budaya positif dengan menanamkan nilai kebajikan dan keyakinan serta kesepakatan kelas yang sudah di buat

4.       Menumbuhkan budi pekerti yang baik (tanggung jawab, disipilin, dan komitmen)

5.       Mengajarkan murid mencari solusi dari suatu permasalahan.

 

C.      TOLAK UKUR

 

1.       Peserta didik mampu membuat kesepakatan dan keyakinan kelas sesuai dengan nilai - nilai Profil Pelajar Pancasila.

2.       Peserta  didik  mampu  menjalankan  kesepakatan  yang  telah  dibuat  dengan  penuh tanggung jawab.

3.       Peserta didik mampu menentukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya.

4.       Peserta  didik  mampu  menunjukkan  perubahan  perilaku  sebagai  pembelajaran  atas masalah yang pernah dihadapinya.

5.       Peserta didik dan guru mampu  melaksanakan budaya positif (keyakinan kelas dan segitiga restitusi) secara konsisten.

 

D.      LINIMASA TINDAKAN YANG DILAKUKAN

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan diantaranya ialah:

1.       Melaksanakan diseminasi budaya positif di lingkungan sekolah kepada seluruh warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas, Profil Pelajar Pancasila dan praktik segitiga restitusi dalam rangka mewujudkan disiplin positif di sekolah.

2.       Guru memfasilitasi murid untuk membuat kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang telah disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di dinding kelas.

3.       Melaksanakan praktik penerapan segitiga restitusi kepada dua orang murid dan mendokumentasikannya.

 

E.       DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

 

1.       Kepala Sekolah dan Rekan Sejawat 

Dukungan dalam menerapkan keyakinan kelas dalam mewujudkan disiplin positif guna membentuk budaya positif di lingkungan kelas dan sekolah.

2.       Murid

Murid sebagai subjek pembelajaran yang berkolaborasi bersama dengan guru dalam membuat keyakinan kelas secara bersama-sama.

3.       Orang Tua/Wali Murid

Berperan aktif dalam melanjutkan budaya positif di lingkungan keluarga dan juga lingkungan rumah murid.

 

F.       Bahan dan Alat:

 

1.       Untuk dokumentasi dan editing : kamera digital/kamera HP, aplikasi edit video.

2.       Untuk membuat keyakinan kelas : Papan tulis, spidol, kertas  stiky note.

3.       Untuk sosialisasi budaya positif : Laptop, Proyektor, Perangkat  Audio/Sound System

 

G.     HASIL DARI AKSI NYATA

Kepala Sekolah dan para guru menyambut antusias adanya kegiatan diseminasi yang diadakan di sekolah. Mereka mendapat pemahaman baru tentang budaya positif dan penerapannya di sekolah. Perlu ada kegiatan serupa yang waktunya lebih lama sehingga materi dan penjelasannya lebih rinci lagi sehingga lebih dipahami.

Semua murid memberikan respon yaitu mereka  merasa senang dan apresiatif, selain itu  mereka antusias dalam  melakukan perubahan terkait  aturan kelas. Murid  menyepakati draft keyakinan kelas yang telah dibuat bersama karena motivasi intrinsiknya. Tantangannya adalah ketika ada beberapa murid yang mengisikan usulan kelas impian dengan menyalin ulang apa yang diusulkan oleh temannya sehingga ada beberapa usulan kelas impian yang sama.

Dari beberapa usulan kelas impian tersebut kemudian guru bersama murid menyalinnya menjadi sebuah keyakinan kelas yang disepakati bersama antara guru dan murid dengan membubuhkan tanda tangan ke dalam draft keyakinan kelas. Kegiatan praktik penerapan segitiga restitusi dalam penanganan kasus di sekolah memberikan inspirasi bagi guru-guru dalam memperbaiki praktik pendisiplinan murid di sekolah.

H.     PEMBELAJARAN YANG DI DAPAT DARI PELAKSANAAN

 Pembelajaran yang didapat dari hasil pelaksanaan antara lain yaitu:

1.       Pentingnya memahami dan menerapkan budaya positif di sekolah

2.       Pentingnya membuat kelas impian dan keyakinan kelas.

3.       Memperbaiki praktik pendisiplinan anak melalui penerapan segitiga restitusi.

4.       Dukungan dari semua warga sekolah untuk menerapkan disiplin positif guna mewujudkan budaya positif di kelas dan di lingkungan sekolah.

 

I.        RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELAKSANAAN DI MASA MENDATANG

 

1.       Persiapan harus lebih matang dalam melaksanakan kegiatan diseminasi,waktunya harus lebih panjang dan kegiatan harus lebih bervariasi.

2.       Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang yaitu mengevaluasi keyakinan kelas agar menjadi lebih baik lagi dan menerapkan kepada seluruh kelas.

3.       Melaksanakan simulasi penerapan segitiga restitusi oleh para guru yang ada di sekolah sebelum di terapkan kepada murid.

 

J.        DOKUMENTASI KEGIATAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 

1.     1.   Diseminasi Budaya Positif di sekolah     :

     https://www.youtube.com/watch?v=eM_i7M0EQ-4


2.     2.  Dokumen Pribadi

Praktik pembentukan keyakinan kelas  : https://drive.google.com/file/d/1XHi8cQ75ByBaek14YMkRJHonBuxzZMrs/view?usp=sharing

 

3.     3.   Dokumen Pribadi

Praktik penerapan segitiga restitusi       : https://drive.google.com/file/d/1NiS5lo2G8BrVsTc9cQi5iBCH2iA_hZHo/view?usp=sharing

 

4.     4.  Budaya Literasi




5.     5.   Budaya Menjalankan ibadah sholat berjamaah dilanjutkan Kultum di Mushollah Jabal Ilmi SMK Negeri 5 Majene.







 


 

Komentar